Minggu, 14 Maret 2010

Dua Sarung Tangan Dari Malaikat Kecil


Joyce sedang membersihkan saku jaket musim dingin milik putrinya yang berumur 6 tahun, kemudian ia menemukan sepasang sarung tangan tebal di masing2 saku. Padahal sepasang sarung tangan cukup untuknya menghangatkan tangan. Joyce pun bertanya pada putrinya, mengapa ia membawa dua pasang sarung tangan. Dia menjawab, "Mama, sebenarnya hal itu udah lama saya lakukan. Mama tau, sebagian anak datang ke sekolah tanpa membawa sarung tangan. Dan jika saya membawa sepasang lagi, saya bisa memberikannya kepada salah satu dari mereka dan tangannya tak akan kedinginan lagi"

=======
bahkan seorang anak umur 6 tahun mengajari kita semangat membantu orang lain. Mari merenung. Salam...

Pelajaran Untuk Seumur Hidup


Di sebuah tempat, tinggallah seorang anak laki2 bersama ayahnya. Anak lelaki itu berusia 11 tahun dan selalu pergi memancing setiap kali ia mempunyai kesempatan di dermaga di pondok keluarganya. Sehari sebelum musim penangkapan ikan bass (sejenis ikan bandeng) dimulai, ia dan ayahnya memancing menjelang malam hari. Ketika gagang pancingnya melengkung karena beban berat, dia tahu bahwa sesuatu yang besar menyangkut di ujung kail. Ayahnya melihat dengan takjub saat anak laki2nya terampil menarik ikan itu ke pinggir dermaga. akhirnya ikan itu terangkat juga. Itu adalah ikan terbesar yang pernah dilihatnya, namun tetap saja itu adalah ikan bass. Si anak dan ayahnya memperhatikan ikan yang bagus itu. Kemudian pandangan ayahnya beralih ke jam tangan. Jam 10 malam, 2 jam sebelum musim menangkap ikan bass dimulai... Dia melihat lagi ikan itu lalu melihat anaknya. "Kamu harus mengembalikannya, Nak" "Ayah!" anak itu protes. "Kamu akan mendapat ikan lainnya" kata ayahnya lagi. "Tidak akan sebesar ini," jawab anaknya. si anak melihat ke sekelilingnya. Tak ada orang selain mereka, tak ada yang tahu pula ia mendapatkan ikan ini pada pukul berapa tepatnya. Namun keputusan ayahnya tak dapat ditawar lagi. Akhirnya si anak melepaskan ikan itu ke danau lagi... Itu kisah 34 tahun yang lalu. Kini anak itu telah menjadi arsitek sukses. Pondok tempat dia dan ayahnya memancing masih ada. Dan dia suka mengajak anak2nya memancing di tempat itu. Dia benar, dia tidak pernah lagi memancing ikan sebesar yang pernah ia tangkap dulu. Namun ia mendapatkan pelajaran beharga tentang etika... Etika memang persoalan sederhana tentang benar atau salah. Namun mempraktikkannya susah. Apakah kita melakukan hal yang benar ketika tak seorang pun melihat kita? Apakah kita menolak menyelesaikan pekerjaan tepat waktu? Tuhan selalu ada bersama kita. Melihat kita... Sudah sepatutnya kita malu bila berbuat salah. Salam...

Kisah Penjual Tempe


Ada sebuah rumah kecil di pinggiran kota Bandung . Di situ ada seorang perempuan tua yang sangat kuat beribadah. Pekerjaannya ialah membuat tempe dan menjualnya di pasar setiap hari. Ini merupakan satu-satunya sumber pendapatannya untuk membiayai hidupnya. Tempe yang dijualnya merupakan tempe yang dibuatnya sendiri.

Pada suatu pagi, seperti biasa, ketika beliau sedang bersiap-siap untuk pergi menjual tempenya, tiba tiba dia tersadar kalau tempe yang dibuatnya hari itu masih belum jadi, separuh jadi. Kebiasaannya tempe yang akan di jual sudah jadi sebelum pergi. Diperiksanya beberapa bungkusan yang lain. Ternyatalah memang kesemuanya belum jadi. Perempuan tua itu merasa amat sedih sebab tempe yang masih belum menjadi pastinya tidak akan laku dan tidak akan ada rezekinya pada hari itu. Dalam suasana hatinya yang sedih, dia yang memang kuat beribadah teringat akan firman Tuhan yang menyatakan bahawa Tuhan dapat melakukan apa saja yang Allah kehendaki, bahwa bagi Allah tiada yang mustahil. Lalu diapun mengangkat kedua tangannya sambil berdoa , “Ya Allah , aku memohon kepadaMu agar kacang kedelai ini menjadi tempe . Amin” Begitulah doa ringkas yang dipanjatkan dengan sepenuh hatinya. Dia sangat yakin bahwa Tuhan pasti mengabulkan doanya.

Dengan tenang perempuan tua itu menekan-nekan bungkusan bakal tempe dengan ujung jarinya dan dia pun membuka sedikit bungkusan itu untuk menyaksikan keajaiban kacang kedelai itu menjadi tempe. Namun, dia termenung seketika sebab kacang kedelai itu masih tetap seperti semula. Namun dia tidak putus asa, sebaliknya berfikir mungkin doanya kurang jelas didengar oleh Tuhan. Maka dia pun mengangkat kedua tangannya semula dan berdoa lagi. “Ya Allah, aku tahu bahwa tiada yang mustahil bagiMu. Bantulah aku supaya hari ini aku dapat menjual tempe kerana inilah mata pencarianku. Aku mohon agar jadikanlah kacang kedelaiku ini menjadi tempe, Amiiiin”.

Dengan penuh harapan dan debaran dia pun sekali lagi membuka sedikit bungkusan itu. Apakah yang terjadi? Dia termangu dan kecewa karena tempenya masih tetap begitu!! Sementara itu matahari pun semakin meninggi sudah tentu pasar sudah mulai didatangi ramai orang. Dia tetap tidak kecewa atas doanya yang belum terkabul. Walau bagaimanapun kerana keyakinannya yg sangat tinggi dia putuskan untuk tetap pergi ke pasar membawa barang jualannya itu.

Perempuan tua itu pun berserah pada Tuhan dan meneruskan pergi ke pasar sambil berdoa dengan harapan apabila sampai di pasar semua tempenya akan masak. Dia berfikir mungkin keajaiban Tuhan akan terjadi semasa perjalanannya ke pasar. Sebelum keluar dari rumah, dia sempat mengangkat kedua tangannya untuk berdoa. “Tuhan, aku percaya, Engkau akan mengabulkan doaku. Sementara aku berjalan menuju ke pasar, Engkau kurniakanlah keajaiban ini buatku, jadikanlah tempe ini. Amin”. Lalu dia pun berangkat. Di sepanjang perjalanan dia tetap tidak lupa membaca doa di dalam hatinya. Sesampainya di pasar, segera dia meletakkan barang-barangnya. Hatinya betul-betul yakin dengan tempenya sekarang sudah jadi. Dengan hati yg berdebar-debar dia pun membuka bakulnya dan menekan-nekan dengan jarinya setiap bungkusan tempe yang ada. Perlahan-lahan dia membuka sedikit daun pembungkusnya dan melihat isinya. Apa yang terjadi? Tempenya masih belum jadi!! Dia pun kaget seketika lalu menarik nafas dalam-dalam. Dalam hatinya sudah mulai merasa sedikit kecewa dan putus asa kepada Tuhan kerana doanya tidak dikabulkan. Dia merasakan Tuhan tidak adil. Allah tidak kasihan padanya, inilah satu-satunya sumber rezekinya, hasil jualan tempe . Dia akhirnya cuma duduk saja tanpa memamerkan barang jualannya sebab dia merasa bahwa tiada orang yang akan membeli tempe yang baru separuh menjadi. Sementara itu hari pun semakin sore dan pasar sudah mulai sepi, para pembeli sudah mulai kurang.

Dia melihat ke kawan-kawan sesama penjual tempe, tempe mereka sudah hampir habis. Dia tertunduk lesu seperti tidak sanggup menghadapi kenyataan bahwa hari ini tiada hasil jualan yang boleh dibawa pulang. Namun jauh di sudut hatinya masih menaruh harapan terakhir kepada Allah, pasti Allah akan menolongnya. Walaupun dia tahu bahwa pada hari itu dia tidak akan dapat pendapatan langsung, namun dia tetap berdoa buat kali terakhir, “Tuhan, berikanlah penyelesaian terbaik terhadap tempeku yang belum jadi ini.”

http://www.eramuslim.com/oase-iman/nenek-pedagang-tempe.htm